SOPPENG – Pasca perayaan Idul Fitri 1447 H, suasana kehangatan masih terasa di berbagai penjuru. Bagi alumni SMPN 2 Liliriaja (Spenda) angkatan 1999, momen ini menjadi waktu yang tepat untuk kembali merajut kenangan lama dalam balutan silaturahmi yang sederhana namun penuh makna.
Rabu (25/3/2026), kediaman Hj Kartini di Akkalingbatue, Kelurahan Jennae, Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng menjadi saksi berkumpulnya para sahabat “putih biru” yang telah lama berpisah karena jarak dan kesibukan. Tawa, cerita masa lalu, dan keakraban seolah menghapus sekat waktu yang membentang.
Acara yang digelar tanpa kemewahan itu justru menghadirkan suasana hangat dan akrab menjadi ruang berbagi kisah, dari kisah kehidupan keluarga hingga perjalanan karir masing-masing.
Hj Kartini selaku tuan rumah sekaligus pemrakarsa acara mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya pertemuan tersebut. Ia mengaku bahagia karena dapat kembali bertatap muka dengan teman-teman semasa duduk di bangku sekolah menengah pertama.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada teman-teman semua yang telah meluangkan waktunya untuk hadir. Momen seperti ini sangat berarti bagi kita,” ujarnya.
Senada dengan itu, Nurhafsah, S.Sos., MM, yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Jampu, menilai kegiatan tersebut bukan sekedar ajang temu kangen, melainkan juga upaya menjaga ikatan silaturahmi pasca Lebaran.
Menurutnya, pertemuan seperti ini penting untuk terus dijaga agar hubungan persahabatan tidak terputus oleh kesibukan dan jarak.
“Ini bukan hanya temu biasa, tapi momentum mempererat silaturahmi setelah Lebaran. Harapan saya, ke depan pertemuan seperti ini bisa lebih ramai lagi dan terus berlanjut,” tuturnya.
Di tengah obrolan santai dan canda yang mengalir, pertemuan itu menjadi pengingat bahwa persahabatan sejati tak lekang oleh waktu. Meski telah menempuh jalan hidup masing-masing, ikatan yang terjalin sejak masa “putih biru” tetap hidup dan mengakar.
Silaturahmi sederhana di Akkalingbatue itu pun menjadi bukti bahwa kebersamaan tak selalu membutuhkan kemewahan. Cukup dengan kehadiran, keikhlasan, dan kenangan yang terjaga. (*)





