SOPPENG – Suasana ruang kelas di SD Negeri 73 Lamogo Desa Pattojo, Kecamatan Liliriaja, tampak berbeda pada Senin (23/2/2026). Sejumlah siswa duduk bersila di atas karpet merah, mengenakan busana muslim dan peci hitam. Di hadapan mereka, seorang guru berdiri sambil menjelaskan materi dengan proyektor yang menampilkan tema Ramadhan. Keheningan sesekali pecah oleh suara anak-anak yang antusias menjawab pertanyaan.
Sekolah tersebut menggelar kegiatan Pesantren Kilat Ramadhan 1447 H/2026 M selama tiga hari, mulai tanggal 23 hingga 25 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi agenda rutin tahunan sebagai upaya memperkuat pemahaman keagamaan siswa sejak usia dini.
Guru Pendidikan Agama Islam (PAI), A. Ernawati, S.Pd.I., Gr. yang menjadi pemateri utama, mengatakan pesantren kilat dirancang tidak hanya sebagai kegiatan seremonial Ramadhan, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran praktik ibadah yang benar.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya mengetahui teori, tetapi juga mampu menanamkan wudhu, salat, dan puasa dengan baik dan benar,” ujarnya.
Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan pembukaan resmi sekaligus penyampaian materi tata cara berwudhu. Siswa diajak memahami rukun dan sunnah wudhu, lalu mengajarkannya secara langsung dengan pendampingan guru.
Memasuki hari kedua, materi difokuskan pada tata cara salat dan puasa. Anak-anak terlihat serius mengikuti setiap gerakan yang dicontohkan. Beberapa siswa maju ke depan untuk mengajarkan gerakan shalat, sementara guru lainnya memberikan koreksi secara perlahan dan membimbing dengan sabar.
Hari ketiga menjadi penutup yang sarat suasana religius. Kegiatan diisi dengan tadarus Al-Qur'an, sambung ayat, serta tilawah. Suara lantunan ayat suci terdengar bergantian dari para siswa yang mencoba tampil percaya diri di depan teman-temannya.
Kepala sekolah, Hj Herlina Pammu, S.Pd.,SD menyampaikan bahwa pesantren kilat menjadi momen penting untuk membangun karakter siswa, terutama dalam membiasakan ibadah dan memperkuat akhlak mulia.
“Kami berharap nilai-nilai yang ditanamkan selama tiga hari ini bisa terus diterapkan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya selama Ramadhan,” ungkapnya.
Melalui kegiatan sederhana namun penuh makna ini, SD Negeri 73 Lamogo berupaya menjadikan Ramadhan sebagai momentum pendidikan karakter. Di tengah keterbatasan ruang dan fasilitas, semangat belajar para siswa menjadi bukti bahwa pelatihan nilai spiritual tetap menjadi prioritas utama.
Di akhir kegiatan, senyum dan wajah sumringah para siswa menjadi penanda bahwa Ramadhan bukan sekedar kewajiban berpuasa, melainkan juga perjalanan belajar tentang kedisiplinan, kebersamaan, dan keimanan. (**)










